Membelakangi Matahari Membelakangi Rejeki

Membelakangi Matahari Membelakangi Rejeki

Sebuah fenomena dalam kehidupan ummat adalah selalu membelakangi kelebihan yang dimiliki. Kenapa penulis bilang membelakangi kelebihan bangsa ini. Karena faktanya semua kelebihan yang dimiliki seperti tanah, air dan udara. Tidak mendapat perlakuan yang layak dari pemiliknya.

Menolak Kaya

Sebagai sebuah contoh penulis ingin menunjukan fakta seperti bagaimana udara yang bersih dikotori dengan arogansi sekelompok orang. Dengan argumentasi kemudahan hidup dan keuntungan finansial. Dengan perkembangan teknologi sa’at ini, semua yang kita anggap mudah dan mengutungan ini sesungguhnya sebuah kesesatan berpikir. Yang dikaburkan oleh ketidaktahuan serta keterbatasan keinginan untuk berubah. Adalah sebuah fakta dengan lautan yang luas dan matahari yang banyak. Serta hutan yang indah, hampir semuanya tidak maksimal digunakan dan lestari. Sebuah fakta bahwa kebutuhan selalu berhubungan kuat dengan ketersediaan. Lalu pertanyaannya bagaimana mungkin ketersediaan yang jelas-jelas didepan mata dipelintir dengan ketersediaan yang membebani.

lombok berduka

Matahari yang Kaya

Dengan matahari yang kaya dan teknologi sa’at ini, banyak perubahan yang bisa dilakukan. Tapi apa yang terjadi, kenapa kita masih terperangkap dalam sebuah ketidak tentuan akan kebaikan alam yang melimpah ini. Merubah manfa’at matahari yang kaya menjadi nilai keuntungan rupiah dan kesejahteraan bukan lagi mimpi. Adalah sebuah fakta yang bisa diwujudkan dalam kehidupan nyata. DImana beban listirk di Indonesia yang sa’at ini banyak mengorbankan sumberdaya alam. Seperti batubara, dan ada nilai ekonomis yang mesti di berikan dalam proses produksinya. Sementara nilai matahari yang nyata-nyata secara ekonomis grastis malah ditolak. Melihat kenyataan ini  energi-ummat.org merasa memiliki kewajiban untuk membangun kesadaran kolektif yang pada kesadaran yang benar dan akurat.

Lautan yang luas

begitu luasnya lautan belum bisa memberikan kesejahteraan yang maksimal dalam kehidupan berbangsa, kenapa bisa seperti itu. Karena semua orang lebih melihat daratan sebagai sumber kehidupan. Dan menurunkan laut sebagai tempat yang tidak menjanjikan masa depan. Persepsi teresterial seperti ini mendorong masyarakat untuk tidak melihat dan menilai lautan sebagai aset tapi justru melihat sebagai biaya?. nah, dengan luasnya lautan berkali-kali dari luasnya daratan. Logika berpikirnya mesti melihat lautan sebagai aset yang tumbuh dan berkembang serta bisa menopang daratan yang tidak seberapa. Lalu akar masalahnya terletak dimana? Persepsi kebangsaan dan kedirian yang dibentuk dari informasi dan media. Dimana kita dipersepsikan hidup di daratan yang terbatas.

 

 

2 Thoughts to “Membelakangi Matahari Membelakangi Rejeki”

  1. Abu Fathir

    Subhanallah Akhi
    Perkenalkan ana Dikky dari Cimahi. Semoga usaha antum dalam kemandirian energi untuk umat khususnya Mesjid dimudahkan oleh Alloh Subhanahu wa ta’ala. Amin Yaa Rabbal Alamin.
    Kalo ingin bergabung menjadi marketing lepas antum atau sekedar menyumbangkan skill ana kemana yah Akhi?
    Syukron.

    1. masterenergi

      Salam Abu Fathir

      Tentu saja bisa, selalu ada jalan untuk kebaikan. Energi-ummat adalah gerakan ummat, selama bertujuan untuk kesyukuran pada Nikmat Allah dengan mamanfaatkan dan menjaga keberlangsungan makhluk tanpa mengurangi eksistensi alam dan isinya, kesempatan untuk berbuat selalu ada.

      Salam

      Admin

Leave a Comment